1 . Siti Fatimah Binti Maimun
Pesisir utara Jawa adalah jalan keluar masuknya pedagang
di tanah jawa , hal ini sudah berjalan sejak abad ke-10 masehi dan banyak juga
saudagar dari arab yang berdatangan seperti Persia ,Baghdad ,Gujarat dan dari belahan bumi lainnya .
Kedatangan mereka ke tanah jawa adalah berdagang dan
mengembangkan ajaran agama Islam dan salah satu tujuannya adalah ke Leran
,karena Leran adalah tempat perdagangan yang cukup ramai dan besar ,adapun
kedatangan mereka selain melalui pelabuhan Galuh juga lewat sungai yang menuju
ke Leran karena di Leran sendiri terdapat pangkalan perahu atau kapal yang
cukup besar . Hal ini terbukti peninggalan yang berupa beberapa tiang tempat
bersandarnya perahu.
Pelabuhan Leran sendiri diperkirakan sudah ada sejak masa bertahtanya prabu Sendok, salah satu raja di jawa yang memerintah kerajaannya antara tahun 929-949 Masehi .Hal ini merupakan gambaran tersendiri bahwa Islam masuk ke jawa sejak dimulai sejak jauh jauh sebelum Wali songo , akan tetapi perkembangannya tidak seluas atau sebesar wali songo yang diawali Syekh Maulana Malik Ibrahim pada abad 14 masehi.
Bukti lain menyebutkan bahwa Islam masuk ke jawa jauh sebelum Wali songo yaitu telah ditemukannya batu nisan yang tertuliskan nama Fatimah Binti Maimun Bin Hibatallah , wafat tahun 1082 masehi ,akan tetapi batu tersebut pada saat ditemukan tidak menancap pada tanah sebagaimana batu nisan umumnya , sehingga timbullah banyak perbedaan diantara para ahli sejarah , dan batu tersebut ditemukan dengan posisi bersanda pada dinding gedung.
Peninggalan Siti Fatimah Binti Maimun adalah batu tulis atau prasasti yang mungin tujuannya adalah untuk batu nisan makamnya akan tetapi selain itu tidak ada sejarah yang menceritakan siapa Siti Fatimah Binti Maimun? Bagaimana kisahnya? Sejauh mana perjuangannya terhadap perkembangan Islam di Jawa, ini pun para ahli sejarah tidak ada yang membuktikan di mana makam Siti Fatimah Binti Maimun tersebut.
Pelabuhan Leran sendiri diperkirakan sudah ada sejak masa bertahtanya prabu Sendok, salah satu raja di jawa yang memerintah kerajaannya antara tahun 929-949 Masehi .Hal ini merupakan gambaran tersendiri bahwa Islam masuk ke jawa sejak dimulai sejak jauh jauh sebelum Wali songo , akan tetapi perkembangannya tidak seluas atau sebesar wali songo yang diawali Syekh Maulana Malik Ibrahim pada abad 14 masehi.
Bukti lain menyebutkan bahwa Islam masuk ke jawa jauh sebelum Wali songo yaitu telah ditemukannya batu nisan yang tertuliskan nama Fatimah Binti Maimun Bin Hibatallah , wafat tahun 1082 masehi ,akan tetapi batu tersebut pada saat ditemukan tidak menancap pada tanah sebagaimana batu nisan umumnya , sehingga timbullah banyak perbedaan diantara para ahli sejarah , dan batu tersebut ditemukan dengan posisi bersanda pada dinding gedung.
Peninggalan Siti Fatimah Binti Maimun adalah batu tulis atau prasasti yang mungin tujuannya adalah untuk batu nisan makamnya akan tetapi selain itu tidak ada sejarah yang menceritakan siapa Siti Fatimah Binti Maimun? Bagaimana kisahnya? Sejauh mana perjuangannya terhadap perkembangan Islam di Jawa, ini pun para ahli sejarah tidak ada yang membuktikan di mana makam Siti Fatimah Binti Maimun tersebut.
Meskipun tidak
terbukti di mana makamnya ,akan tetapi nama Siti Fatimah Binti Maimun adalah
merupakan suatu simbol betapa jayanya Islam pada waktu iu dan betapa tuanya
Islam di tanah Jawa yang diawali dengan keluhuran namanya dan dilanjutkan
dengan perintisan oleh Wali songo yang jami`iyah yang dicetuskan oleh Syekh
Maulana Malik Ibrahim yang datang ke tanah Jawa pada tahun 1369 masehi dan
diwujudkan oleh Sunan Ampel serta diteruskan oleh Sunan Giri dan seterusnya.
2 . Syekh Maulana Malik
Ibrahim.
Syekh Maulana Malik Ibrahim datang ke Jawa pada tahun
1369 masehi. Tempat yang pertama dituju adalah pelabuhan yang ramai dengan
keluar masuknya para pedagang atau saudagar yang salah satunya di pangkalan
desa Leran.
Adapun nama-nama
pelabuhan yang lain yaitu Bandar Ngabak dan Jenggala yang kesemuanya itu berada
disepanjang bengawan atau sungai Manyar dan ada lagi sebuah pohon yang disebut
“Randu Sikatan“ yaitu randu tempat mengikatnya perahu.
Disekitar pelabuhan pangkalan itu Syekh Maulana Malik
Ibrahim bermukim dan mulai menyebarkan ajaran agama Islam dari yang berkasta
rendah dengan cara mendekati dan memahami situasi sosial mereka yang tertindas
oleh kasta yang lebih tinggi ,dari situlah salah satu keberhasilan beliau
,sehingga mulailah terkikis perbedaan kasta serta mulailah terangkat derajat
dan hak asasi mereka karena merasa tiada beda dengan kasta-kasta lainnya.
Disertai sikap yang hati-hati dan penuh wibawa maka maka
dengan cepat pengikut beliau semakin banyak ,kemudian beliau mendirikan tepat
ibadah yang sekaligus sebagai tempat mendidik para santri yaitu di dusun
Pesucinan yang sekarang disebut Masjid Maulana Malik Ibrahim dusun Pesucinan
desa Leran.
3 . Nama Pesucinan
Pesucinan berasal dari kata Suci yang diartikan bahwa di
masjid tersebut terdapat tempat wudlu (bersuci dari hadats) yang berupa ubangan
tanah. Bila ada yang mengatakan Pesucinan = Pecinan adalah salah karena Pecinan
(yang berasal dari “CIna”) ialah pemukiman Cina terletak di sebelah Timur
Pesucinan dengan jarak sejauh 500 meter , yang juga mempunyai batas dengan yang
jelas yaitu jalan raya menuju “Sumur Doho”
desa Banjarsari yang juga merupakan peninggalan sejarah .
4 . Sultan Mahmud Syah Alam ,
Raja Cermain.
Perkembangan Islam
di Leran semakin meluas sampai ke desa-desa sekitarnya hingga ke desa roomo
bahkan gresik ,dalam keadaan seperti ini timbul rasa khawatir dalam diri Syekh Maulana
Malik Ibrahim karena sebagian warga masyarakat yang berada di sekitar Leran Gresik
beragama Islam sedangkan Gresik termasuk wilayah kerajaan Majapait yang rajanya
masih beragama Hindu yang masih berkuasa .
Untuk mencari
jalan keluarnya beliau mengirim surat pada raja Cermain yang sudah lama menjadi
sahabatnya , yang maksudnya diajak ke Majapahit dan mengajak raja Brawijaya
masuk Islam , karena dengan masuknya raja Brawijaya pada Islam akan dapat
mencegah kemungkinan perlakuan sewenang-wenang raja tersebut terhadap rakyat
Gresik yang sudah masuk Islam .
Sesuai dengan isi
surat Syekh Maulana Malik Ibrahim maka datanglah rombongan dari negri Cermain
yaitu diantaranya Raja Sultan Mahmud Alam Syah dan putrinya yang bernama Aminah
serta 88 orang prajurit dan pengawal antara lain : Sayyid Ja`far , Syekh Syarif
, Syekh Karim.
Rombongan mereka
mengendarai 3 prahu yang bersandar di pelabuhan Pangalan (pelabuhan yang
terdekat dengan Leran) dan bertemu dengan Syekh Maulana Malik Ibrahim kemudian
merencanakan segala sesuatunya , peristiwa itu terjadi pada tahun 1371 masehi .
Kesepakatan yang
diperoleh yaitu mengirim 2 utusan untuk berangkat ke Majapahit dan sebagai
penghormatan diberikanlah sebuah Delima untuk disampaikan pada Raja Brawijaya
yang diantaranya utusan adalah Sayyid Ja`far . Sayyid Ja`far adalah saudara
dari Sultan Mahmud Syah Alam.
Setibanya 2
utusan itu di Majapahit disambut oleh sang Patih tapi tidak disambut baik oleh
raja Brawijaya padahal raja tidak ada kesibukan (sedang santai).Bagi Sayyid
Ja`far yang penting tugas menyampaikan pesan (surat) telah dilaksanakan , kemudian
kembali ke Leran . Isi surat itu tak lain adalah bahwa rombongan dari Leran
akan datang ke Majapahit.
Ketika dua utusan Leran telah meninggalkan Majapahit tapi
Raja Brawijaya masih asyik dengan kebiasaanya yaitu “Nginang” (mengunyah daun
sirih ) , tapi kebiasaan kali ini berakhir tidak seperti biasanya yakni badan
raja Brawijaya menjadi tak enak dan mulutnya seperti Jontor serta terasa pahit
dan sebagainya , dalam keadaan seperti itu raja mengutus para dayang untuk
mencarikan buah-buahan sebagai cuci mulut tapi tidak ada yang berhasil kemudian
memanggil patih dengan maksud untuk mencarikan buah-buahan juga , karena patih
punya Delima pemberian dari utusan Leran maka disampaikanlah buah Delima
tersebut dan segera membelahnya.
Sebelah buah Delima dibelah maka terjadilah perubahn
suasana Istana karena adanya keanehan dari buah Delima tersebut yakni tidak
berisikan sebagaimana buah Delima pada umumnya tapi berisikan berlian .
Dengan peristiwa itu Raja bertanya pada Patih dari mana
buah itu didapatkan , Patih menjawab bahwa buah itu pemberian utusan Leran yang
memberi kabar bahwa akan datang ke Majapahit satu rombongan dari Leran yang
dipimpin oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Sultan Mahmud Syah Alam.
Raja menyuruh Patih untuk memanggil utusan tersebut tapi
disampaikan bahwa kedua utusan Leran itu sudah kembali ke Leran , tapi Raja
menghendaki untuk disusul , kemudian berangkatlah sang Patih menyusul utusan
itu dan bertemulah di suatu tempat dan sedang istirahat , maka disampaikanlah
pesan raja bahwa utusan Leran diminta untuk kembali ke Majapahit .
Kedua utusan itu yang diantaranya adalah Sayyid Ja`far ,
menolak untuk kembali ke Majapahit dan berpesan saja supaya Raja Brawijaya
menemui di tempat peristirahatan itu dan dinanti oleh kedua utusan tersebut ,
sehingga tempat menunggu tersebut dikenal dengan sebutan Menganti .
Entah apa yang terjadi di
Majapahit sampai-sampai Raja Brawijaya tak kunjung datang , karena batas
menunggu telah berakhir maka utusan Leran itu melanjutkan melanjutkan
perjalanan pulang ke Leran .
Dalam perjalanan ke Leran ada suatu peristiwa yang
membuat bingung yaitu salah seorang dari utusan itu menghilang , dan yang
lainnya mencari tapi bagaikan melewati jalan yang melingkar tapi dengan berdo`a
kepada Allah , masalah itu dengan mudah dapat diatasi . Maka dari peristiwa itu
tempat tersebut dikenal dengan nama “Bunder” .
erjalanan berikutnya , kedua utusan itu melewati
pinggiran sungai sehingga kaki mereka terinjak tanah liat dan menempel pada
telapak kaki mereka , seolah-olah bertanya bagaikan mengangkut pulau kemudian
mereka menghentikan kaki dan tanah liat
yang menempel kaki (Bahasa Jawa nya = “Dibal” ) itu terlempar dan jatuh ke
genangan air sehingga tampak seperti pulau (Bahasa Jawanya = “Pulo” )dan
sekarang tempat tersebut dikenal dengan nama “Tebalo” .
Utusan leran masih meneruskan perjalanan dan untuk dapat
sampai ke Leran harus mencari tahu ke mana arah menuju Leran . Maka cara
selanjutnya harus naik gunung dan melihat ke bawah (bahasa Jawanya= “ ngungak”)
setelah ngungak dari atas gunung ,maka gunung itu itu dinamakan “Gunung
pengungaan” dan sekarang terkenal dengan nama “Gunung Pongangan “ .
Dari atas gunung itu juga Sayyid Ja`far dapat melihat
gunung Giri dan dengan petunujuk Allah SWT. Beliau dapat merasakan bahwa kelak
diantara keturunan atau keluarganya aka nada yang Berjaya ditempat itu dengan
kebesaran nama Islam .
5. Dewi Retno Suari
Sesampainya kedua orang utusan di Leran maka persiapan
Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Sultan Mahmud syah Alam segera dimulai
pengaturannya untuk berangkat bersama-sama ke Majapahit dengan tujuan utama
untuk mengajak Raja Brawijaya masuk Islam . Perjalanan ke Majapahit nampaknya
lancer – lancer saja tanpa ada halangan yang berarti .Sedangkan pesantrennya
dipercayakan kepada kelima murid kepercayaanya .
Setibanya rombongan Leran ke Majapahit maka mulailah
Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Sultan Mahmud menyampaikan maksud dan tujuannya
untuk mengajak Raja Brawijaya masuk Islam tapi raja menolak dengan cara
diplomatis , menyampaikan bahwa bersedia masuk Islam asalkan Aminah Binti
Mahmud yang cantik itu mau menjadi
Istrinya , Permintaan itu ditolak oleh Sultam Mahmud dan Syekh Maulana Malik
Ibrahim karena seseorang masuk Islam hars bersih dari unsure kepentingan
duniawi dan kepentingan pribadi ataupun nafsu karena kalau hal itu terjadi
hanya akan mengakibatkan hal –hal yang tidak baik , bahkan hanya akan merusak
nama kebesaran Islam .
Selesai berpidato dengan Raja Brawijaya yang berakhir
dengan kegagalan , maka segeralah kembali ke Leran sambilberdo`a semoga sang
Raja tidak berlaku sewenang –wenang terhadap rakyat Gresik dan sekitarnya yang
telah beragama Islam .Syekh Maulan Malik Ibrahim dan Sultan Mahmud telah sampai
di Leran dengan selamat , sebagaian rombongan itu ada yang beristirahat dan
sebagaian ada yang membenahi prahu karena akan digunakan oleh Sultan Mahmud
Syah Alam kembali ke cermain karena sebagai raja tidak dapat meninggalakan
tugas utamanya untuk lebih lama lagi , Sedangkan Syekh Maulana malik Ibrahim
dan Sayyid Ja`far diberi amanat oleh Sultan Mahmud untuk mendidik sayyidinah
Aminah untuk mendalami ilmu agam di Leran serta merencanakan kelanjutan dari
usaha untuk mengajak Raja Brawijaya untuk masuk Islam .Keberangkatan Sutan
Mahmud kembali ke Cermain tidak disertai seluruh prajuritnya tapi hanya sebagian
saja bahkan para pengawalnya lebih diperintahkan untuk melindungi putrinya yang
ditinggalkan di Leran .
Tidak berslang waktu lama setelah keberangkatan Sultan
Mahmud ternyata di Leran terjadi wabah penyakit yang ganas dan cukup banyak
juga yang terkana wabah tersebut , termasuk sayyidinah Aminah , yang akhirnya
meninggal dunia dan dimakamkan di Leran .
Peristiwa tentang meninggalnya putrid Aminah beritannya
terdengar sampai ke telinga Raja Brawijaya , sehingga bergegaslah sang raja
menuju ke Leran untuk melayat karena sang raja terlanjur menaruh hati pada Ptri
Aminah maka ang raja bermaksud untuk mengenangnya dengan cara membuatkan gedung
perlindungan pada makam Putri Aminah yang dicintainya , mengingat kecantikan
Putri Aminah , sang raja menyebutnya ‘ Putri dewi retno Suari “, kemudian
rakyat pun menjulukinya dengan berbagai sebutan yang menurut mereka mudah
diucapkan diantarannya : ada yang menyebut raden Ayu Mas Putri , Mbak Ayu
MasPutri , Mbak Ayu Mas Putri retno Suari .
Mengenai gedung
kuncup pada makam Putri Aminah binti Mahmud Syah Alam , yang tidak diberi atap
itu karena menurut ahli filosof karena Putri Aminah belum menikah dan hanya
baru dilamar oleh Raja Brawijaya , itupun ditolak karena karena hanya sebagai
pamrih sang raja untuk masuk Islam .
Wbah penyakit
yang menyerang Leran adalah penyakit To`un atau sampar , sehingga karena
terlalu ganasnya penyakit itu seolah-olah orang meninggal dunia banyak yang
wakunya bersamaan dan pemakamannya tercecer dibanyak tempat di wilayah Leran ,
hal ini dapat dijumpai hingga saat ini .
6 . Tanah Perdikan
Raja Brawijaya masih terkenang akan kecantikan Putri
retno Suari, dalam keadaan demikian , pemikiran sang raja kurang bisa berfikir
sebagaimana biasannya sehingga ada sedikit saja permasalahan yang mengganggu beliau
menjadi sensitif . Hal ini terbukti ketika Beliau menyaksikan sendiri kalau
rakyat Leran bahkan Gresik , sudah hamper seluruhnya beragama Islam maka beliau
mulai khawatir bahkan takut , kalau suatu saat rakyat yang dulunya lemah karena
merasa rendah sekarang menjadi berani karena merasa drajatnya tidak dibedakan
oleh kasta , akan memberontak pada Majapahit. Maka sebelum kembali ke Majapahit , Raja Brawijaya
menyatakan bahwa Leran Gresik adalah tanah perdikan yang artinya tidak dipungut
biaya (pajak) tetapi tetap bagian dari wilayah Majapahit , sedangkan yang
menerima penyerahan pemerintahan itu adalah Syekh maulan Malik Ibrahim untuk
memerintah pemerintah itu di gresik dibawah kedaulatan Majapahit , juga diberi pesan agar tetap mendamaikan rakyat yang
beragama Islam dengan rajannya , meskipun masih beragama Hindu . Padahal pesan
itu sudah disampaikan oleh Syekh Maulana jauh sebelum diucapkan oleh raja
Brawijaya kepada para santrinya karena sesuai dengan yang termaktub dalam
Al-qur`an surat An-Nisa` ayat 114 .
7. Kampung Gapuro
Syekh Maulana Malik Ibrahim terkenal dengan ahli di
bidang agama yang juga ahli di bidang tata Negara dan pertanian , Beliau yag
berhasil meng-Islam-kan rakyat Gresik juga berhasil menata perekonomian meraka
, Khususnya dibidang pertanian yang ditunjang dengan sisitem perairan dari
gunung .
Untuk mencapai semua itu Syekh Maulana Malik Ibrahim
telah berhasil tapi keberhasilan tidak semudah mempertahankan , Untuk itu Syekh
Maulana Malik Ibrahim berusaha mengalihkan perhatian rakyat Leran agar tidak
terkenang masa lalunya maka beliau pindah ke kampong Gapuro Gresik , baik pusat
pendidikannya maupun pusat pemerintahannya dikiblatkan disana , peristiwa itu
terjadi pada tahun 1387 M ,
Adapun Syekh Maulan Malik Ibrahim meninggalkan Leran
adalah karena di Leran terdapat “Prasasti karang Bogem ‘ yaitu tempat suci umat
Hindu “ Rakeh rangkuti”.
Menurut ahli
sejarah bahwa karang Bogem adalah Pulau Mengarau , itu berarti luasnnya Leran
sampai ke sana , tapi diarea pertambakan Leran juga ada yang namannya “ Tambak
Bogem” . Berarti mengenai Bogem ada dua pendapat , pendapat yang pertama
mengatakan Pulau Megare Kec. Bungah Gresik karena bentuknya seperti Kapalan
Tangan atau pulau kecil tapi cukup menonojol jika dilihat dari laut yang
seperti batu karang .
Pendapat kedua bahwa tambak Bogem dahulunnya adalah
karang Bogemkarena nama Bogem dipakai hingga sekarang dan letaknnya tidak jauh
dari Leran .
8. Sayyid Ja`far
Ialah saudara dari Sultan Mahmud syah Alam yang juga
merupakan paman dari Putri Retno Suari memilih tetap tinggal di Leran sedangkan
Syekh Maulan Malik Ibrahim pindah ke Kampung gapuro , karena Syekh Maulana
Malik Ibrahim adalah pimpinan dan guru mereka , adapun tugas Sayyid Jafar
adalah tetap berjaga dan mempertahankan Islam di Leran , besera kerabatnya yang
lain .
Alkisah Sayyid Ja`far berada di Leran sampai akhir
hayatnnya bahkan beliau menjaga kawasan makam panjang , konon sampai sekarang
di alam Ghoibnya . Sayyid Ja`far dalam mempertahankan Islam di Leran tentu tak
lepas dari dukungan para pengikutnya baik dari Leran snediri maupun dari
kerabatnya dari Cermain , diantarannya ialah : sayyid Karim , Sayyid Syarif
yang juga merupakan keluarga sultan Mahmud Syah Alam .
Ketiga beliau adalah jasadnya di kubur berbentukpanjang
dan dip agar dalam satu lingkungan , karena mereka satu keluarga .
9. Makam – makam Panjang
Makam panjang menurut ahli filosofi berarti :
perjalanan-perjalanan masih panjang yang harus dilakukan oleh para muballigh
Islam , untukmenyiarkan Islam di Jawa yang dimulai dari Leran dan pesan ini
disampaikan oleh Sultan Mahmud yang diteruskan oleh Sayyid Ja`far untuk
generasi penerusnnya .
Pendapat lain
tentang makam panjang yaitu sebenarnya dulu makam – makam itu tidak panjang dan
berukuran sebagaimana makam-makam lainnya , karena demi keamanan dari
tangan-tangan ilmu hitam maka oleh santri , makam –makam gurunya tersebut
disamarkan dengan cara dipanjangkan agar kalau ada yang akan menggali ( untuk
keperluan ilmu Hitam) agar menjadi tertipu sehingga tidak jadi menggalinnya .
10. Status Kekeluargaan Makam
Panjang .
Orang – orang di kubur di makam panjang antara lain :
a. Sayyid ja`far ialah saudara
dari sultan Mahmud yang menerima amanat untuk menjaga Aminah binti Mahmud Syah
Alam.b. Sayyi Karim ialah beliau
termasuk keluarga atau saudara yang menggantikan kedudukan sultan Mahmud di
Leran , dalam arti seumpamanya Leran itu kerajaan maka Sayyid Karim itulah yang
menjadi rajannya.
c. Sayyid Syarif , beliau adalah panglima perang atau panglima tertinggi di kerajaan Cermain yang juga merupakan saudara dari sultan Mahmud Syah . Beliau ditugaskan di Leran karena Sultan Mahmud Syah lebihmenghawatirkan putrinnya sehingga beliau tidak diajak kembali ke Cermain.
d. Sayyid Jalal
e. Sayyid Jamal
f. Sayyid Jamaluddin (Beliau ketiga tersebut ialah pengwal yang juga menjapat tugas mengurus barang-barang pusaka dan peralatan perang yang dibawannya dari cermain). Alkisah para ahli sejarah ada yang mengatakan bahwa barang pusaka tersebut termasuk batu Nisan yang bertiliskan nama Siti Fatimah binti hibatallah yang wafat tahun 1082 M yang menurut cirri-cirinya batu tersebut berasal dari Gujarat India .
g. Raden Ahmad
h. Raden Sa`id (Beliau berdua ialah penjaga pintu gerbang yang sekaligus sebagai sebagai penerima tamu). Menurut tata seharusnya para peziarah kalau masuk ke Makam Panjang lewat pintu bagian selatan , karena disitulah pintu utama keluar-masuknya tamu yang dijaga oleh raden Ahmad dan raden sa`id .
c. Sayyid Syarif , beliau adalah panglima perang atau panglima tertinggi di kerajaan Cermain yang juga merupakan saudara dari sultan Mahmud Syah . Beliau ditugaskan di Leran karena Sultan Mahmud Syah lebihmenghawatirkan putrinnya sehingga beliau tidak diajak kembali ke Cermain.
d. Sayyid Jalal
e. Sayyid Jamal
f. Sayyid Jamaluddin (Beliau ketiga tersebut ialah pengwal yang juga menjapat tugas mengurus barang-barang pusaka dan peralatan perang yang dibawannya dari cermain). Alkisah para ahli sejarah ada yang mengatakan bahwa barang pusaka tersebut termasuk batu Nisan yang bertiliskan nama Siti Fatimah binti hibatallah yang wafat tahun 1082 M yang menurut cirri-cirinya batu tersebut berasal dari Gujarat India .
g. Raden Ahmad
h. Raden Sa`id (Beliau berdua ialah penjaga pintu gerbang yang sekaligus sebagai sebagai penerima tamu). Menurut tata seharusnya para peziarah kalau masuk ke Makam Panjang lewat pintu bagian selatan , karena disitulah pintu utama keluar-masuknya tamu yang dijaga oleh raden Ahmad dan raden sa`id .
Keterangan :Pemindahan batu nisan sehingga makam-makam tersebut menjadi kelihatan panjang ,baru dilaksanakan oleh para sesepuh dan santri Leran ketika penjajah Belanda berkuasa di Jawa dan Nusantara , hal ini juga dilakukan oleh warga sekitar Leran , seperti makam tua Manyar , Peganden , dan Makam Telogo Jero Leran atau di tempat lainnya .
11. Makam Putri
Para Putri yang dimakamkan di Cungkup antara Lain :
a. Putri Seruni( Nyai seruni)
yang terletak paling timur , beliau adalah dayang , Pendapat lain mengatakan
bahwa beliau itu yang mengasuh Putri Retno Suari , alsannya dilihat dari posisi
makamnya tidak sejajar dengan ketiga dayang yang berda di sebelah baratnya
Putri retno Suari .
b. Dewi retno Suari , penghuni utama Cungkup tersebut .
c. Putri Kucing ialah dayang yang berasal dari negeri Kucing(ibukota serawak Malaysia timur , pulau Kalimantan )
d. Putri keling
e. Putri Kamboja ialah dayang berasal dari Kamboja.
b. Dewi retno Suari , penghuni utama Cungkup tersebut .
c. Putri Kucing ialah dayang yang berasal dari negeri Kucing(ibukota serawak Malaysia timur , pulau Kalimantan )
d. Putri keling
e. Putri Kamboja ialah dayang berasal dari Kamboja.
12 . Cungkup Leran
Gedung atau rumah untuk melindungi maka disebut juga
cungkup , sedangkan Cungkup Leran ialah peninggalan raja Brawijaya untuk
mengenang Putri retno Suari . Adapun bentuk aslinnya dulu tanpa atap atas dan
yang bias dilihat sekarang ini adalah penyempurnaan yang dilaksanakan oleh
Dinas peninggalan sejarah dan suka purbakala jawa Timur yang berpusat di
Mojokerto Jawa Timur .
Bahan bengunan yang dibangun ialah batu yang sejenis
dengan aslinnya yang didapat dari pasai Aceh . Bentuk asli bangunan cungkup
tersebut dapat dijumpai fotonnya di Museum Sunan Giri gresik yang terletak di
Pelataran parkir kendaraan peziarah Sunan Maulana Malik Ibrahim .
Keterangan :


Kesimpulannya :

13 . Asal-usul nama Leran
Berbagai macam pendapat
tentang nama Leran antara lain :
a. Ler-leran (tempat menggelar)
adalah tempat pertama kali agama Islam disebar atau digelar secara
besar-besaran oeh Jami`iyah wali songo yang dipelopori oleh Syekh Maulan Malik
Ibrahim .
b. Lerean (tempat berhenti) adalah pertama kali Syekh Maulan malik Ibrahim berhenti dari perjalanan [anjangnya untuk menyiarkan Islam di Pulau Jawa .
c. Ler (utara) , karena ada dua bangunan yang sama letaknya ada dibagian selatan (kidulan) dan bagian utama (leran) , bangunan itu adalah cungkup Leran yang pembangunannya tidak diteruskan sampai bentuk berbentuk candi oleh raja Brawijaya .
b. Lerean (tempat berhenti) adalah pertama kali Syekh Maulan malik Ibrahim berhenti dari perjalanan [anjangnya untuk menyiarkan Islam di Pulau Jawa .
c. Ler (utara) , karena ada dua bangunan yang sama letaknya ada dibagian selatan (kidulan) dan bagian utama (leran) , bangunan itu adalah cungkup Leran yang pembangunannya tidak diteruskan sampai bentuk berbentuk candi oleh raja Brawijaya .
14. Silsilah Anggota Wali
Songo dan Makam panjang .
Klik gambar untuk memperbesar
Keterangan : Abdul Malik Muhajir keturunan ke -15 dari Ali bin Abi Thalib .
Tanda [ + ] adalah istrinya .