Senin, 12 Maret 2018

SEJARAH

SEJARAH DESA LERAN DAN  DEWI RETNO SUARI MAKAM PANJANG 




1 . Siti Fatimah Binti Maimun
         Pesisir utara Jawa adalah jalan keluar masuknya pedagang di tanah jawa , hal ini sudah berjalan sejak abad ke-10 masehi dan banyak juga saudagar dari arab yang berdatangan seperti Persia ,Baghdad ,Gujarat dan dari  belahan bumi lainnya .
       Kedatangan mereka ke tanah jawa adalah berdagang dan mengembangkan ajaran agama Islam dan salah satu tujuannya adalah ke Leran ,karena Leran adalah tempat perdagangan yang cukup ramai dan besar ,adapun kedatangan mereka selain melalui pelabuhan Galuh juga lewat sungai yang menuju ke Leran karena di Leran sendiri terdapat pangkalan perahu atau kapal yang cukup besar . Hal ini terbukti peninggalan yang berupa beberapa tiang tempat bersandarnya perahu.
       Pelabuhan Leran sendiri diperkirakan sudah ada sejak masa bertahtanya prabu Sendok, salah satu raja di jawa yang memerintah kerajaannya antara tahun 929-949 Masehi .Hal ini merupakan gambaran tersendiri bahwa Islam masuk ke jawa sejak dimulai sejak jauh jauh sebelum Wali songo , akan tetapi perkembangannya tidak seluas atau sebesar wali songo yang diawali Syekh Maulana Malik Ibrahim pada abad 14 masehi.
     Bukti lain menyebutkan bahwa Islam masuk ke jawa jauh sebelum Wali songo yaitu telah ditemukannya batu nisan yang tertuliskan nama Fatimah Binti Maimun Bin Hibatallah , wafat tahun 1082 masehi ,akan tetapi batu tersebut pada saat ditemukan tidak menancap pada tanah sebagaimana batu nisan umumnya , sehingga timbullah banyak perbedaan diantara para ahli sejarah , dan batu tersebut ditemukan dengan posisi bersanda pada dinding gedung.
       Peninggalan  Siti Fatimah Binti Maimun adalah batu tulis atau prasasti yang mungin tujuannya adalah untuk batu nisan makamnya akan tetapi selain itu tidak ada sejarah yang menceritakan siapa Siti Fatimah Binti Maimun? Bagaimana kisahnya? Sejauh mana perjuangannya terhadap perkembangan Islam di Jawa, ini pun para ahli sejarah tidak ada yang membuktikan di mana makam Siti Fatimah Binti Maimun tersebut.
       Meskipun tidak terbukti di mana makamnya ,akan tetapi nama Siti Fatimah Binti Maimun adalah merupakan suatu simbol betapa jayanya Islam pada waktu iu dan betapa tuanya Islam di tanah Jawa yang diawali dengan keluhuran namanya dan dilanjutkan dengan perintisan oleh Wali songo yang jami`iyah yang dicetuskan oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim yang datang ke tanah Jawa pada tahun 1369 masehi dan diwujudkan oleh Sunan Ampel serta diteruskan oleh Sunan Giri dan seterusnya.
2 . Syekh Maulana Malik Ibrahim.
    Syekh Maulana Malik Ibrahim datang ke Jawa pada tahun 1369 masehi. Tempat yang pertama dituju adalah pelabuhan yang ramai dengan keluar masuknya para pedagang atau saudagar yang salah satunya di pangkalan desa Leran.
      Adapun nama-nama pelabuhan yang lain yaitu Bandar Ngabak dan Jenggala yang kesemuanya itu berada disepanjang bengawan atau sungai Manyar dan ada lagi sebuah pohon yang disebut “Randu Sikatan“ yaitu randu tempat mengikatnya perahu. 
  Disekitar pelabuhan pangkalan itu Syekh Maulana Malik Ibrahim bermukim dan mulai menyebarkan ajaran agama Islam dari yang berkasta rendah dengan cara mendekati dan memahami situasi sosial mereka yang tertindas oleh kasta yang lebih tinggi ,dari situlah salah satu keberhasilan beliau ,sehingga mulailah terkikis perbedaan kasta serta mulailah terangkat derajat dan hak asasi mereka karena merasa tiada beda dengan kasta-kasta lainnya.
     Disertai sikap yang hati-hati dan penuh wibawa maka maka dengan cepat pengikut beliau semakin banyak ,kemudian beliau mendirikan tepat ibadah yang sekaligus sebagai tempat mendidik para santri yaitu di dusun Pesucinan yang sekarang disebut Masjid Maulana Malik Ibrahim dusun Pesucinan desa Leran.
3 . Nama Pesucinan
      Pesucinan berasal dari kata Suci yang diartikan bahwa di masjid tersebut terdapat tempat wudlu (bersuci dari hadats) yang berupa ubangan tanah. Bila ada yang mengatakan Pesucinan = Pecinan adalah salah karena Pecinan (yang berasal dari “CIna”) ialah pemukiman Cina terletak di sebelah Timur Pesucinan dengan jarak sejauh 500 meter , yang juga mempunyai batas dengan yang jelas yaitu jalan raya menuju “Sumur Doho”  desa Banjarsari yang juga merupakan peninggalan sejarah .
4 . Sultan Mahmud Syah Alam , Raja Cermain.
Perkembangan Islam di Leran semakin meluas sampai ke desa-desa sekitarnya hingga ke desa roomo bahkan gresik ,dalam keadaan seperti ini timbul rasa khawatir dalam diri Syekh Maulana Malik Ibrahim karena sebagian warga masyarakat yang berada di sekitar Leran Gresik beragama Islam sedangkan Gresik termasuk wilayah kerajaan Majapait yang rajanya masih beragama Hindu yang masih berkuasa .
Untuk mencari jalan keluarnya beliau mengirim surat pada raja Cermain yang sudah lama menjadi sahabatnya , yang maksudnya diajak ke Majapahit dan mengajak raja Brawijaya masuk Islam , karena dengan masuknya raja Brawijaya pada Islam akan dapat mencegah kemungkinan perlakuan sewenang-wenang raja tersebut terhadap rakyat Gresik yang sudah masuk Islam .
Sesuai dengan isi surat Syekh Maulana Malik Ibrahim maka datanglah rombongan dari negri Cermain yaitu diantaranya Raja Sultan Mahmud Alam Syah dan putrinya yang bernama Aminah serta 88 orang prajurit dan pengawal antara lain : Sayyid Ja`far , Syekh Syarif , Syekh Karim.
Rombongan mereka mengendarai 3 prahu yang bersandar di pelabuhan Pangalan (pelabuhan yang terdekat dengan Leran) dan bertemu dengan Syekh Maulana Malik Ibrahim kemudian merencanakan segala sesuatunya , peristiwa itu terjadi pada tahun 1371 masehi .
Kesepakatan yang diperoleh yaitu mengirim 2 utusan untuk berangkat ke Majapahit dan sebagai penghormatan diberikanlah sebuah Delima untuk disampaikan pada Raja Brawijaya yang diantaranya utusan adalah Sayyid Ja`far . Sayyid Ja`far adalah saudara dari Sultan Mahmud Syah Alam.
Setibanya 2 utusan itu di Majapahit disambut oleh sang Patih tapi tidak disambut baik oleh raja Brawijaya padahal raja tidak ada kesibukan (sedang santai).Bagi Sayyid Ja`far yang penting tugas menyampaikan pesan (surat) telah dilaksanakan , kemudian kembali ke Leran . Isi surat itu tak lain adalah bahwa rombongan dari Leran akan datang ke Majapahit.
         Ketika dua utusan Leran telah meninggalkan Majapahit tapi Raja Brawijaya masih asyik dengan kebiasaanya yaitu “Nginang” (mengunyah daun sirih ) , tapi kebiasaan kali ini berakhir tidak seperti biasanya yakni badan raja Brawijaya menjadi tak enak dan mulutnya seperti Jontor serta terasa pahit dan sebagainya , dalam keadaan seperti itu raja mengutus para dayang untuk mencarikan buah-buahan sebagai cuci mulut tapi tidak ada yang berhasil kemudian memanggil patih dengan maksud untuk mencarikan buah-buahan juga , karena patih punya Delima pemberian dari utusan Leran maka disampaikanlah buah Delima tersebut dan segera membelahnya.
       Sebelah buah Delima dibelah maka terjadilah perubahn suasana Istana karena adanya keanehan dari buah Delima tersebut yakni tidak berisikan sebagaimana buah Delima pada umumnya tapi berisikan berlian .
      Dengan peristiwa itu Raja bertanya pada Patih dari mana buah itu didapatkan , Patih menjawab bahwa buah itu pemberian utusan Leran yang memberi kabar bahwa akan datang ke Majapahit satu rombongan dari Leran yang dipimpin oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Sultan Mahmud Syah Alam.
      Raja menyuruh Patih untuk memanggil utusan tersebut tapi disampaikan bahwa kedua utusan Leran itu sudah kembali ke Leran , tapi Raja menghendaki untuk disusul , kemudian berangkatlah sang Patih menyusul utusan itu dan bertemulah di suatu tempat dan sedang istirahat , maka disampaikanlah pesan raja bahwa utusan Leran diminta untuk kembali ke Majapahit .
     Kedua utusan itu yang diantaranya adalah Sayyid Ja`far , menolak untuk kembali ke Majapahit dan berpesan saja supaya Raja Brawijaya menemui di tempat peristirahatan itu dan dinanti oleh kedua utusan tersebut , sehingga tempat menunggu tersebut dikenal dengan sebutan Menganti .
Entah apa yang terjadi di Majapahit sampai-sampai Raja Brawijaya tak kunjung datang , karena batas menunggu telah berakhir maka utusan Leran itu melanjutkan melanjutkan perjalanan pulang ke Leran .
     Dalam perjalanan ke Leran ada suatu peristiwa yang membuat bingung yaitu salah seorang dari utusan itu menghilang , dan yang lainnya mencari tapi bagaikan melewati jalan yang melingkar tapi dengan berdo`a kepada Allah , masalah itu dengan mudah dapat diatasi . Maka dari peristiwa itu tempat tersebut dikenal dengan nama “Bunder” .
     erjalanan berikutnya , kedua utusan itu melewati pinggiran sungai sehingga kaki mereka terinjak tanah liat dan menempel pada telapak kaki mereka , seolah-olah bertanya bagaikan mengangkut pulau kemudian mereka menghentikan kaki  dan tanah liat yang menempel kaki (Bahasa Jawa nya = “Dibal” ) itu terlempar dan jatuh ke genangan air sehingga tampak seperti pulau (Bahasa Jawanya = “Pulo” )dan sekarang tempat tersebut dikenal dengan nama “Tebalo” .
      Utusan leran masih meneruskan perjalanan dan untuk dapat sampai ke Leran harus mencari tahu ke mana arah menuju Leran . Maka cara selanjutnya harus naik gunung dan melihat ke bawah (bahasa Jawanya= “ ngungak”) setelah ngungak dari atas gunung ,maka gunung itu itu dinamakan “Gunung pengungaan” dan sekarang terkenal dengan nama “Gunung Pongangan “ .
     Dari atas gunung itu juga Sayyid Ja`far dapat melihat gunung Giri dan dengan petunujuk Allah SWT. Beliau dapat merasakan bahwa kelak diantara keturunan atau keluarganya aka nada yang Berjaya ditempat itu dengan kebesaran nama Islam .
5. Dewi Retno Suari
            Sesampainya kedua orang utusan di Leran maka persiapan Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Sultan Mahmud syah Alam segera dimulai pengaturannya untuk berangkat bersama-sama ke Majapahit dengan tujuan utama untuk mengajak Raja Brawijaya masuk Islam . Perjalanan ke Majapahit nampaknya lancer – lancer saja tanpa ada halangan yang berarti .Sedangkan pesantrennya dipercayakan kepada kelima murid kepercayaanya .
            Setibanya rombongan Leran ke Majapahit maka mulailah Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Sultan Mahmud menyampaikan maksud dan tujuannya untuk mengajak Raja Brawijaya masuk Islam tapi raja menolak dengan cara diplomatis , menyampaikan bahwa bersedia masuk Islam asalkan Aminah Binti Mahmud  yang cantik itu mau menjadi Istrinya , Permintaan itu ditolak oleh Sultam Mahmud dan Syekh Maulana Malik Ibrahim karena seseorang masuk Islam hars bersih dari unsure kepentingan duniawi dan kepentingan pribadi ataupun nafsu karena kalau hal itu terjadi hanya akan mengakibatkan hal –hal yang tidak baik , bahkan hanya akan merusak nama kebesaran Islam .
            Selesai berpidato dengan Raja Brawijaya yang berakhir dengan kegagalan , maka segeralah kembali ke Leran sambilberdo`a semoga sang Raja tidak berlaku sewenang –wenang terhadap rakyat Gresik dan sekitarnya yang telah beragama Islam .Syekh Maulan Malik Ibrahim dan Sultan Mahmud telah sampai di Leran dengan selamat , sebagaian rombongan itu ada yang beristirahat dan sebagaian ada yang membenahi prahu karena akan digunakan oleh Sultan Mahmud Syah Alam kembali ke cermain karena sebagai raja tidak dapat meninggalakan tugas utamanya untuk lebih lama lagi , Sedangkan Syekh Maulana malik Ibrahim dan Sayyid Ja`far diberi amanat oleh Sultan Mahmud untuk mendidik sayyidinah Aminah untuk mendalami ilmu agam di Leran serta merencanakan kelanjutan dari usaha untuk mengajak Raja Brawijaya untuk masuk Islam .Keberangkatan Sutan Mahmud kembali ke Cermain tidak disertai seluruh prajuritnya tapi hanya sebagian saja bahkan para pengawalnya lebih diperintahkan untuk melindungi putrinya yang ditinggalkan di Leran .
            Tidak berslang waktu lama setelah keberangkatan Sultan Mahmud ternyata di Leran terjadi wabah penyakit yang ganas dan cukup banyak juga yang terkana wabah tersebut , termasuk sayyidinah Aminah , yang akhirnya meninggal dunia dan dimakamkan di Leran .
            Peristiwa tentang meninggalnya putrid Aminah beritannya terdengar sampai ke telinga Raja Brawijaya , sehingga bergegaslah sang raja menuju ke Leran untuk melayat karena sang raja terlanjur menaruh hati pada Ptri Aminah maka ang raja bermaksud untuk mengenangnya dengan cara membuatkan gedung perlindungan pada makam Putri Aminah yang dicintainya , mengingat kecantikan Putri Aminah , sang raja menyebutnya ‘ Putri dewi retno Suari “, kemudian rakyat pun menjulukinya dengan berbagai sebutan yang menurut mereka mudah diucapkan diantarannya : ada yang menyebut raden Ayu Mas Putri , Mbak Ayu MasPutri , Mbak Ayu Mas Putri retno Suari .
Mengenai gedung kuncup pada makam Putri Aminah binti Mahmud Syah Alam , yang tidak diberi atap itu karena menurut ahli filosof karena Putri Aminah belum menikah dan hanya baru dilamar oleh Raja Brawijaya , itupun ditolak karena karena hanya sebagai pamrih sang raja untuk masuk Islam .
Wbah penyakit yang menyerang Leran adalah penyakit To`un atau sampar , sehingga karena terlalu ganasnya penyakit itu seolah-olah orang meninggal dunia banyak yang wakunya bersamaan dan pemakamannya tercecer dibanyak tempat di wilayah Leran , hal ini dapat dijumpai hingga saat ini .
6 . Tanah Perdikan
            Raja Brawijaya masih terkenang akan kecantikan Putri retno Suari, dalam keadaan demikian , pemikiran sang raja kurang bisa berfikir sebagaimana biasannya sehingga ada sedikit saja permasalahan yang mengganggu beliau menjadi sensitif . Hal ini terbukti ketika Beliau menyaksikan sendiri kalau rakyat Leran bahkan Gresik , sudah hamper seluruhnya beragama Islam maka beliau mulai khawatir bahkan takut , kalau suatu saat rakyat yang dulunya lemah karena merasa rendah sekarang menjadi berani karena merasa drajatnya tidak dibedakan oleh kasta , akan memberontak pada Majapahit. Maka  sebelum kembali ke Majapahit , Raja Brawijaya menyatakan bahwa Leran Gresik adalah tanah perdikan yang artinya tidak dipungut biaya (pajak) tetapi tetap bagian dari wilayah Majapahit , sedangkan yang menerima penyerahan pemerintahan itu adalah Syekh maulan Malik Ibrahim untuk memerintah pemerintah itu di gresik dibawah kedaulatan Majapahit , juga  diberi pesan agar tetap mendamaikan rakyat yang beragama Islam dengan rajannya , meskipun masih beragama Hindu . Padahal pesan itu sudah disampaikan oleh Syekh Maulana jauh sebelum diucapkan oleh raja Brawijaya kepada para santrinya karena sesuai dengan yang termaktub dalam Al-qur`an surat An-Nisa` ayat 114 .
7. Kampung Gapuro
            Syekh Maulana Malik Ibrahim terkenal dengan ahli di bidang agama yang juga ahli di bidang tata Negara dan pertanian , Beliau yag berhasil meng-Islam-kan rakyat Gresik juga berhasil menata perekonomian meraka , Khususnya dibidang pertanian yang ditunjang dengan sisitem perairan dari gunung .
            Untuk mencapai semua itu Syekh Maulana Malik Ibrahim telah berhasil tapi keberhasilan tidak semudah mempertahankan , Untuk itu Syekh Maulana Malik Ibrahim berusaha mengalihkan perhatian rakyat Leran agar tidak terkenang masa lalunya maka beliau pindah ke kampong Gapuro Gresik , baik pusat pendidikannya maupun pusat pemerintahannya dikiblatkan disana , peristiwa itu terjadi pada tahun 1387 M ,
            Adapun Syekh Maulan Malik Ibrahim meninggalkan Leran adalah karena di Leran terdapat “Prasasti karang Bogem ‘ yaitu tempat suci umat Hindu “ Rakeh rangkuti”.
Menurut ahli sejarah bahwa karang Bogem adalah Pulau Mengarau , itu berarti luasnnya Leran sampai ke sana , tapi diarea pertambakan Leran juga ada yang namannya “ Tambak Bogem” . Berarti mengenai Bogem ada dua pendapat , pendapat yang pertama mengatakan Pulau Megare Kec. Bungah Gresik karena bentuknya seperti Kapalan Tangan atau pulau kecil tapi cukup menonojol jika dilihat dari laut yang seperti batu karang .
            Pendapat kedua bahwa tambak Bogem dahulunnya adalah karang Bogemkarena nama Bogem dipakai hingga sekarang dan letaknnya tidak jauh dari Leran .
8. Sayyid Ja`far
            Ialah saudara dari Sultan Mahmud syah Alam yang juga merupakan paman dari Putri Retno Suari memilih tetap tinggal di Leran sedangkan Syekh Maulan Malik Ibrahim pindah ke Kampung gapuro , karena Syekh Maulana Malik Ibrahim adalah pimpinan dan guru mereka , adapun tugas Sayyid Jafar adalah tetap berjaga dan mempertahankan Islam di Leran , besera kerabatnya yang lain .
            Alkisah Sayyid Ja`far berada di Leran sampai akhir hayatnnya bahkan beliau menjaga kawasan makam panjang , konon sampai sekarang di alam Ghoibnya . Sayyid Ja`far dalam mempertahankan Islam di Leran tentu tak lepas dari dukungan para pengikutnya baik dari Leran snediri maupun dari kerabatnya dari Cermain , diantarannya ialah : sayyid Karim , Sayyid Syarif yang juga merupakan keluarga sultan Mahmud Syah Alam .
            Ketiga beliau adalah jasadnya di kubur berbentukpanjang dan dip agar dalam satu lingkungan , karena mereka satu keluarga .
9. Makam – makam Panjang
         Makam panjang menurut ahli filosofi berarti : perjalanan-perjalanan masih panjang yang harus dilakukan oleh para muballigh Islam , untukmenyiarkan Islam di Jawa yang dimulai dari Leran dan pesan ini disampaikan oleh Sultan Mahmud yang diteruskan oleh Sayyid Ja`far untuk generasi penerusnnya .
Pendapat lain tentang makam panjang yaitu sebenarnya dulu makam – makam itu tidak panjang dan berukuran sebagaimana makam-makam lainnya , karena demi keamanan dari tangan-tangan ilmu hitam maka oleh santri , makam –makam gurunya tersebut disamarkan dengan cara dipanjangkan agar kalau ada yang akan menggali ( untuk keperluan ilmu Hitam) agar menjadi tertipu sehingga tidak jadi menggalinnya .
10. Status Kekeluargaan Makam Panjang .
       Orang – orang di kubur di makam panjang antara lain :
a. Sayyid ja`far ialah saudara dari sultan Mahmud yang menerima amanat untuk menjaga Aminah binti Mahmud Syah Alam.b. Sayyi Karim ialah beliau termasuk keluarga atau saudara yang menggantikan kedudukan sultan Mahmud di Leran , dalam arti seumpamanya Leran itu kerajaan maka Sayyid Karim itulah yang menjadi rajannya.
c. Sayyid Syarif , beliau adalah panglima perang atau panglima tertinggi di kerajaan Cermain yang juga merupakan saudara dari sultan Mahmud Syah . Beliau ditugaskan di Leran karena Sultan Mahmud Syah lebihmenghawatirkan putrinnya sehingga beliau tidak diajak kembali ke Cermain.
d. Sayyid Jalal
e. Sayyid Jamal
f. Sayyid Jamaluddin (Beliau ketiga tersebut ialah pengwal yang juga menjapat tugas mengurus barang-barang pusaka dan peralatan perang yang dibawannya dari cermain). Alkisah para ahli sejarah ada yang mengatakan bahwa barang pusaka tersebut termasuk batu Nisan yang bertiliskan nama Siti Fatimah binti hibatallah yang wafat tahun 1082 M yang menurut cirri-cirinya batu tersebut berasal dari Gujarat India .
g. Raden Ahmad
h. Raden Sa`id (Beliau berdua ialah penjaga pintu gerbang yang sekaligus sebagai sebagai penerima tamu). Menurut tata seharusnya para peziarah kalau masuk ke Makam Panjang lewat pintu bagian selatan , karena disitulah pintu utama keluar-masuknya tamu yang dijaga oleh raden Ahmad dan raden sa`id .
Keterangan :Pemindahan batu nisan sehingga makam-makam tersebut menjadi kelihatan panjang ,baru dilaksanakan oleh para sesepuh dan santri Leran ketika penjajah Belanda berkuasa di Jawa dan Nusantara , hal ini juga dilakukan oleh warga sekitar Leran , seperti makam tua Manyar , Peganden , dan Makam Telogo Jero Leran atau di tempat lainnya .
11. Makam Putri
            Para Putri yang dimakamkan di Cungkup antara Lain :
a. Putri Seruni( Nyai seruni) yang terletak paling timur , beliau adalah dayang , Pendapat lain mengatakan bahwa beliau itu yang mengasuh Putri Retno Suari , alsannya dilihat dari posisi makamnya tidak sejajar dengan ketiga dayang yang berda di sebelah baratnya Putri retno Suari .
b. Dewi retno Suari , penghuni utama Cungkup tersebut .
c. Putri Kucing ialah dayang yang berasal dari negeri Kucing(ibukota serawak Malaysia timur , pulau Kalimantan )
d. Putri keling
e. Putri Kamboja ialah dayang berasal dari Kamboja.
12 . Cungkup Leran
       Gedung atau rumah untuk melindungi maka disebut juga cungkup , sedangkan Cungkup Leran ialah peninggalan raja Brawijaya untuk mengenang Putri retno Suari . Adapun bentuk aslinnya dulu tanpa atap atas dan yang bias dilihat sekarang ini adalah penyempurnaan yang dilaksanakan oleh Dinas peninggalan sejarah dan suka purbakala jawa Timur yang berpusat di Mojokerto Jawa Timur .
       Bahan bengunan yang dibangun ialah batu yang sejenis dengan aslinnya yang didapat dari pasai Aceh . Bentuk asli bangunan cungkup tersebut dapat dijumpai fotonnya di Museum Sunan Giri gresik yang terletak di Pelataran parkir kendaraan peziarah Sunan Maulana Malik Ibrahim .
Keterangan :
*      Fatimah binti maimun wafat tahun 1082 M. batu nisannya tidak tertancap di tanah tapi bersandar pada diding cungkup , berarti tidak diketahui dimana makamnya .
*      Putri Retno Suari adalah Aminah binti Mahmud Syah Alam yang dimakamkan didalam cungkup tersebut , sedangkan cungkup itu di buat oleh raja Brawijaya yang berkuasa setelah tahun 1350 M.
Kesimpulannya :
*      Bahwa antara Fatimah binti Maimun dengan Aminah binti Mahmud Syah Alam adalah dua orang berbeda , apabila ada juru kunci atau ahli sejarah menceritakan kisah beliau pernah dilamar oleh raja Brawijya maka yang dimaksud adalah Aminah binti Mahmud Syah Alam yang kemudian dikenal dengan Dewi Retno Suari .
13 . Asal-usul nama Leran
Berbagai macam pendapat tentang nama Leran antara lain :
a. Ler-leran (tempat menggelar) adalah tempat pertama kali agama Islam disebar atau digelar secara besar-besaran oeh Jami`iyah wali songo yang dipelopori oleh Syekh Maulan Malik Ibrahim .
b. Lerean (tempat berhenti) adalah pertama kali Syekh Maulan malik Ibrahim berhenti dari perjalanan [anjangnya untuk menyiarkan Islam di Pulau Jawa .
c. Ler (utara) , karena ada dua bangunan yang sama letaknya ada dibagian selatan (kidulan) dan bagian utama (leran) , bangunan itu adalah cungkup Leran yang pembangunannya tidak diteruskan sampai bentuk berbentuk candi oleh raja Brawijaya .
14. Silsilah Anggota Wali Songo dan Makam panjang .



 Klik gambar untuk memperbesar
Keterangan : Abdul Malik Muhajir keturunan ke -15 dari Ali bin Abi Thalib .

Tanda [ + ] adalah istrinya .

VISI MISI



Pemerintah Desa Leran tahun periode 2013 - 2019 di bawah kepemimpinan Bapak H. Abdul Manan, M.Si mempunyai Visi Misi sebagai berikut :

VISI
“TERBANGUNNYA TATA KELOLA PEMERINTAH DESA YANG BAIK, JUJUR DAN TERBUKA MENUJU DESA LERAN YANG DIIDAMKAN”

MISI
  1. Mewujudkan Pemerintah Desa yang baik, jujur dan terbuka dalam rengka meningkatkan pelayanan masyarakat
  2. Mewujudkan arah pembangunan dan pengembangan pembangunan yang terpadu
  3. Mewujudkan kualitas iman dan taqwa serta pengembangan kehidupan beragama, kerukunan umat beragama dan fasilitas kehidupan beragama
  4. Meningkatkan kapasitas lembaga kemasyarakatan desa serta menggerakkan dan menumbuhkembangkan swadaya serta kebersamaan masyarakat dalam pembangunan desa
  5. Mewujudkan perekonomian desa yang kuat dengan pemberdayaan potensi unggulan desa
  6. Mewujudkan ketersediaan dan peningkatan sarana fasilitas umum serta peningkatan sarana dan pelayanan di bidang pendidikan, kesehatan, kepemudaan, olahraga dan sosial budaya
  7. Meningkatkan kualitas dan pelestarian lingkungan hidup
  8. Meningkatkan pelayanan penanganan masalah sosial serta meningkatkan kemajuan dan kemandirian masyarakat miskin

DATA KEPENDUDUKAN



1.   Jumlah Penduduk dan Bangunan
No
Penduduk

Jiwa
KK
Pemilih

Rumah
Bangunan Lain
1
Laki-laki

2.665
1.160
1.919

974
43
2
Perempuan

2.526
160
1.842



Jumlah

5.191
1.320
3.761

1.017
Data Dispendukcapil Juni 2016
2.   Data Penduduk Menurut Usia
Umur
(Tahun)
Jumlah
(Jiwa)
Umur
(Tahun)
Jumlah
(Jiwa)
Umur
(Tahun)
Jumlah
(Jiwa)
Umur
(Tahun)
Jumlah
(Jiwa)
≤ 1
62
16
123
31
103
46
81
2
73
17
90
32
89
47
58
3
91
18
85
33
97
48
72
4
99
19
97
34
109
49
74
5
82
20
101
35
100
50
58
6
79
21
101
36
94
51
57
7
84
22
97
37
77
52
56
8
97
23
76
38
96
53
40
9
78
24
97
39
87
54
48
10
90
25
77
40
90
55
35
11
98
26
95
41
78
56
62
12
109
27
93
42
83
57
35
13
92
28
87
43
78
58
46
14
94
29
83
44
78
59
52
15
70
30
89
45
64
60≥
405
Jml ≤1-15
1.298
Jml 16-30
1.391
Jml 31-45
1.323
Jml 46-60≥
1.179
J u m l a h
5.191

3.   Data Penduduk Menurut Pendidikan
No.
Tingkat Pendidikan
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
1.
Tidak/Belum Sekolah
549
567
1.116
2.
Belum Tamat SD / sederajat
272
226
498
3.
Tamat SD / sederajat
537
624
1.161
4.
SLTP / sederajat
469
501
970
5.
SLTA / sederajat
750
498
1.248
6.
Diploma I/II
1
1
2
7.
Diploma III / Akademi/ Sarmud
3
6
9
8.
Diploma IV / Strata I
57
79
136
9.
Strata II
3
3
6
10.
Data tidak diketahui
24
21
45
JUMLAH
2.665
2.526
5.191


4.   Data Penduduk Menurut Pekerjaan (sesuai kode Pekerjaan)
No.
Kode
Jenis Pekerjaan
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
1.
1
Belum/Tidak Bekerja
601
566
1.158
2.
2
Mengurus Rumah Tangga
0
1.098
1.098
3.
3
Pelajar/Mahasiswa
580
464
1.044
4.
4
Pensiunan
1
2
3
5.
5
Pegawai Negeri Sipil
9
1
10
6.
6
Tentara Nasional Indonesia
2
0
2
7.
8
Perdagangan
1
0
1
8.
9
Petani/Pekebun
90
7
97
9.
11
Nelayan/Perikanan
78
0
78
10.
15
Karyawan Swasta
308
94
402
11.
19
Buruh Harian Lepas
5
2
7
12.
23
Pembantu Rumah Tangga
0
3
3
13.
26
Tukang Batu
8
0
8
14.
30
Tukang Jahit
5
28
33
15.
64
Dosen
3
0
3
16.
65
Guru
21
41
62
17.
73
Bidan
0
2
2
18.
74
Perawat
1
1
2
19.
79
Pelaut
1
0
1
20.
81
Sopir
4
0
4
21.
84
Pedagang
1
0
1
22.
85
Perangkat Desa
3
1
4
23.
86
Kepala Desa
1
0
1
24.
88
Wiraswasta
852
138
990
25.
89
Lainnya
90
78
168
Jumlah
2.665
2.526
5.191